Hai, akhirnya aku punya waktu buat nulis lagi ehehehe. Hari ini aku bakal nulis tentang pengalaman ku yang lumayan ekstrem bersama adikku. Lanjutan dari yang pernah kutulis dua minggu yang lalu tentunya.... Oke langsung saja simak ceritanya.
Hari Minggu, pukul 05.00
Keesokan paginya, aku dan Diana membereskan sisa permainan kami semalam sebelumnya, termasuk sisa tetesan lilin di meja dan bekas squirting di kasur......
Da : Mudah-mudahan mama gak notice ya ada bekas squirting di sini.
Di : Lagian kakak semangat bet meras meki ku kek tadi malam. Huft.
Da : Salah kamu sendiri, kan meki mu lemah. Gampang squirt. Hahahahaha.
Di : Ihh kakak (nyubit lengan ku)
Da : Aaaa..... Sakit..... Lepasin.....
Di : (lepas)
Da : (mengelus bekas cubitan) Aduh, sakit bet. Awas nanti kakak kasih hukuman.
Di : Hukum aja.... Weeee..... (Menjulurkan lidah)
Da : (giliran aku yang nyubit dia)
Di : Ihhh kakak, sakit.......
Tiba-tiba mama datang mengetuk pintu.....
M : David ! Bukain pintunya
Da : Iya ma.... (Bukain pintu dikit dan cuma kepala yang nongol) Kenapa ma?
M : Mama mau nyuruh kamu nganterin paket untuk nenek. Tadi mama panggil adikmu tapi belum bangun keknya.
Da : Iya ma, David mandi dulu nih. Barusan mau ke WC pas mama panggil.
M : Oh iya, paketnya mama taruh di meja ya. Awas, jan sampe lupa. Mama pergi senam dulu.
Da : Iya ma, ntar David kirimin. (Nutup pintu) Huft, hampir saja. Ayok kita lanjut beresin......
Di : (pura-pura tidur)
Da : Oy, bangun, jan pura-pura gitu
Di : Hehehehe
Da : Ntar ikut kakak ngantarin paket sekaligus kita jalan-jalan. Kan kita jarang sekali jalan-jalan. Kamu mandi dulu sana.
Di : Okey. Eh, bentar. Kak, mandi berdua yuk.
Da : Ehh.... Serius?
Di : Iya, kak, biar kayak dulu.
Da : Ayok.
Di : Yeeey.
Ini pertama kalinya setelah sekian lama kami sudah tidak mandi bersama. Tapi tentunya pada saat adikku mengajakku untuk mandi bersama, aku sudah tau tujuannya apa.......
Di : Ahhh.... Ahhh....
Da : (kesel) Njir, kalau sagapung jan pas mandi juga kali.....
Di : Hehe..... Maaf kak, tapi.... Ahhh.... Diana masih belum puas. Masih pengen lagi dan lagi..... Ahhhh..... Remasin tetek ku kak....
Da : -_-'
Di : Ntar malam kita main lagi kan, kak...... Ahhhh.....
Da : Iya-iya....
Di : Aaahhhkhhh..... (Orgasme)
Da : Cepetan ah, kelamaan nih kita mandinya....
Setelah mandi, kami langsung siap-siap dan mengantarkan paket itu dengan segera. Begitu selesai mengantarkan paket, kami mampir ke cafe. Sesampainya di cafe.....
Di : Kak, tumben ngajak aku ke sini.
Da : Emang kenapa? Gak apa-apa, kan, sesekali.
Di : Iya, sih, tapi ini tumben bet lho. Bahkan sebelumnya kakak gak pernah ngajak aku jalan-jalan apalagi ke cafe kek gini.
Da : Bentar dulu.....
Dan pelayan cafe datang ke meja kami.....
P : Masnya pesan apa?
Da : Copacobana Crush Tea, satu.
P : Terus mbaknya
Di : Sama deh.
Da : Emang kamu suka?
Di : Gak tau nih. Nyoba aja dulu
Da : Huh, dasar.
Di : Terus tadi gimana, kak?
Da : Hah, apaan... ?
Di : Ihhh, yang tadi itu lho. Kenapa kakak bawa aku ke cafe kek gini....
Da : Oh itu.... Ya maaf, kan tadi kakak lagi ngurus pesanan. Jadi gini ceritanya. Cafe ini dulunya tempat kakak jadian sama pacar kakak waktu SMA. Dan kamu ngingetin kakak ama mantan pacar kakak yang itu.
Di : Kok bisa? Emang aku mirip ya?
Da : Gak gitu. Sini kakak bisikin.
Di : Apa kak (deketin telinga)
Da : (berbisik) Dia juga dulunya seorang slave dan maniak seks sama sepertimu
Di : (terkejut) HAAAAAH....!!!!!!!!
Da : Sssstttt.... Biasa aja kali.
Di : Terus gimana ceritanya kakak bisa putus ama dia?
Da : Kalau yang itu kakak ga mau cerita. Malu
Di : Ihh, cerita aja, kak. Kan kepo aku jadinya.
Da : Please, Diana, serius, kakak gak mau cerita masalah itu.
Di : Ya udah deh, ga apa-apa. Cuma yang bikin aku masih belum puas, kenapa harus di bawa ke tempat seperti ini. Iya, aku tau sih kakak punya kenangan sama mantan kakak di tempat ini, tapi kan banyak tempat lain supaya sekaligus kakak bisa move on. Menurutku bakal sakit rasanya kalau kakak ingat terus dia.
Da : Bener juga sih, dek. Tapi tadi malam itu sebenarnya kakak tiba-tiba ingat dia bukan cuma gara-gara kamu (pelankan suara) jadi slave kakak. Tapi gara-gara alat-alat itu.
Di : Emangnya dia beliin gitu?
Da : Lebih tepatnya patungan. Terus dia minta kakak buat nyimpen itu semua buat kenang-kenangan.
Di : Sad dengernya kak. :(
Tiba-tiba minumannya datang......
Da : (ke pelayan)Makasih ya mbak....
Di : (nungguin pelayannya pergi) Kak, sekarang ga usah sedih. Kan sudah ada aku. Anggap aja aku pacarmu, kak. Perlakukan aku seperti pacarnya kakak dulu. Aku janji bakal bahagiain kakak, puasin kakak. Jadi please, jan sedih lagi ya.
Da : Thanks ya, karena sudah ngertiin kakak.
Di : I love you, master.
Da : I love you too, my slave.
Kami berdua terhanyut dalam suasana, sampai-sampai tidak menghiraukan keadaan sekitar. Setelah itu kami lanjut menikmati teh nya dan segera pulang. Di tengah perjalanan pulang, aku tiba-tiba teringat ingin membeli sesuatu......
Da : Oh iya, kakak hampir lupa pengen beli alat BDSM.
Di : Emang kakak punya duit?
Da : Ada, duit hasil nabung dari gaji kakak kerja sambilan, plus kakak ambil dikit dari uang beasiswa.
Di : Ihh kakak, disalahgunakan dong uangnya.
Da : Gak apa-apa. Yang penting kita berdua puas.
Di : Oke deh kak.
Sampai di pasar gelap, aku beli beberapa alat di antaranya :
-E-stim
-Nipple clamp
-Dan beberapa lilin
Di : Banyak bet, kak. Terus kita bawanya gimana nih, kak
Da : Masukkin aja ke dalam jok motor.
Sampai di rumah, ternyata mama belum pulang juga......
Da : Aman, dek. Ayok masukkin cepet ke dalam kamar.
Di dalam kamar......
Di : Itu lilin banyak-banyak buat apa sih?
Da : Buat candle play. Tubuhmu akan ku teteskan lilin di bagian yang sensitif.
Di : Ooohh..... Kalau yang kayak walkman itu apa.
Da : Oh, itu e-stim, buat ngasih rangsangan elektrik.
Di : Rasanya kek gimana.
Da : Ntar kamu coba aja. Kakak gak bisa ngasih tau.
Di : Duh jadi deg-degan dan gak sabar pen nyobain itu semua......
Malam pun tiba, pukul 23.17, Diana sudah siap dengan seragamnya dalam kamarku.
Da : Baik, sekarang kita mulai. Kamu ambil sikap dengan bersujud pada ku. Kamu akan melakukan ini tiap kali kamu mau bermain bersama ku.
Di : Baik tuan.
Kuinjak kepalanya seperti pada saat inisiasi. Setelah itu, kuminta dia agar duduk seperti seekor anjing sebagai sikap istirahat....
Da : Hari ini, kamu akan mencoba merasakan rasa sakit sebagai sumber kenikmatan seksual. Hal ini sekaligus untuk menentukan apakah kamu pantas untuk lanjut ke level berikutnya. Apabila kamu gagal, maka kamu akan melakukan hal ini berulang kali bersama ku sampai kamu paham bahwa rasa sakit adalah sumber kenikmatan. Jelas?
Di : Sangat jelas, tuan. Hamba akan menerima semua ajaran yang tuan berikan pada hamba. Ilmu yang tuan berikan adalah cahaya bagiku untuk menemukan jati diriku sebagai seekor slave yang lebih hina dari tetesan liur binatang yang paling hina.
Panjang umur, tuan. (Sambil bersujud)
Panjang umur, tuan. (Sambil bersujud)
Panjang umur, tuan. (Sambil bersujud)
Da : Bagus sekarang kita mulai persembahannya...... Berbaringlah di atas kasur itu.
Tangan dan kakinya mulai kuikat seperti malam sebelumnya. Mata nya juga ditutup dan mulutnya dipakaikan gag. Kuambil kursi untuk duduk di sampingnya sambil menyalakan lilin merah. Dan kali ini aku mengeluarkan kontol ku agar saat ia klimaks, aku pun dapat klimaks bersamaan dan crot di atas tubuhnya. Kusingkap bajunya, dan kuturunkan sedikit celananya. Pertama kuhisap dulu kedua putingnya. Kemudian kujilati mekinya. Dan akhirnya mulai kuteteskan lilinnya di putingnya terlebih dulu.
Di : Hmmphhh.... Hmmmpphh.... Hmmpphh...
Tubuhnya menggeliat liar, namun kali ini perutnya tidak kuikat agar mudah disingkap bajunya. Yang penting kedua tangan dan kakinya terkekang.
Tetesannya ku arahkan lagi ke perutnya. Perutnya kembang kempis menerima rasa panas. Setelah cukup lama di perut, kemudian aku arahkan ke pahanya. Kini kakinya yang bergerak liar. Bodohnya aku, harusnya aku membeli tali tambahan untuk kakinya. Tapi aku tak kehabisan akal. Ku lepas gesperku, dan kugunakan untuk membatasi gerakan kakinya yang terlalu liar. Dan kulanjutkan tetesan nya hingga akhirnya mendekati mekinya. Seiring mendekatnya tetesan, kakinya makin bergerak liar. Semakin dekat, dekat dan dekat akhirnya......
HMMMPHHHHH......!!!!!
...Diana orgasme bersamaan dengan jatuhnya beberapa tetesan di atas klitorisnya. Namun aku belum ingin klimaks. Aku masih menunggu klimaks yang kedua saat tubuhnya kualiri listrik. Tanpa ada jeda, aku langsung melanjutkan permainan dengan memasang elektroda pada titik-titik sebagai berikut....
-2 di puting (masing-masing satu)
-8 di paha (masing-masing empat)
-2 di atas meki
NB : Beruntungnya aku dapat model e-stim yang bisa dipasangi elektroda bercabang. Dan tak sampai di situ, aku diberikan diskon karena aku membeli barang dalam jumlah yang banyak.
Dan aku mulai rangsangannya dengan arus dan frekuensinya yang rendah. Telapak kaki Diana mulai bergerak memutar ke kiri dan ke kanan dan tubuhnya masih belum terlalu bereaksi. Melihat tanda itu, aku mulai menaikkan frekuensinya, namun masih dengan arus yang sama. Hasilnya tubuhnya mulai menggeliat lagi. Kunaikkan lagi arusnya ke tingkat sedang dan....
HMMPHH........HMPPHH.... HMMPH....
......Diana mulai terlihat sedikit agresif. Gerakannya hampir mirip seperti jentik nyamuk. Kunaikkan lagi arusnya dan.....
HMPPHHHHH...........!!!!!!!!
......Diana menjadi sangat agresif. Tangannya mulai ditarik-tarik meminta ingin dilepaskan. Sedangkan aku mulai bersiap untuk crot di atas tubuhnya. Sedikit kumainkan arusnya agar difokuskan ke puting dan atas meki dan kupercepat kocokan ku sampai akhirnya.....
HMMMPPPHHH...... !!!!!!!
....suara desahan Diana yang tertahan ball gag terdengar indah sekali karena begitu melengking bersamaan dengan semburan squirting dahsyat. Tak lama setelah itu, aku juga klimaks dan, ku semburkan peju ku ke wajahnya...... Lalu kumatikan e-stimnya, dan melepaskan ikatan, ball gag, dan penutup mata. ......
Da : Kamu gak apa-apa......?
Di : Lumayan, tapi tadi agak sakit pas di akhir. Mungkin karena belum terbiasa. Tapi pada akhirnya rasanya nikmat begitu arusnya makin besar di dekat klitoris.
Da : Kamu masih perlu banyak latihan. Harusnya semua rasa sakit yang kamu terima rasanya nikmat.
Di : Baik, kak. Aku akan usahakan. Bahkan nanti aku latihan solo juga supaya makin terbiasa.
Da : Kamu harus cepat menguasai itu. Agar kamu bisa naik ke tahap selanjutnya yaitu bloodsport.
Di : Sip, kak, tenang aja. Dalam tujuh hari aku yakin bisa.